Sepi Permintaan,Pengrajin Besek Pipiti Bercerita. Ini Kisahnya!

Pengrajin Besek Pipiti (Acih), Tampak Sedang Membuat Pipiti, foto iman/panduDesa

Tasikmalaya, cikupa.sideka.id – Permintaan akan besek wadah dari anyaman bambu berkurang dari waktu ke waktu sejak kurun waktu 5 Tahun terakhir. Penurunan Permintaan ini dirasakan juga oleh Acih (52) salahseorang pengrajin pipiti kepada cikupa.sideka.id, di Desa cikupa, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (09/11/2019).

Dia menuturkan, dulu pesanan pipiti datang hampir setiap hari dari berbagai kegiatan seperti hajatan ataupun permintaan dari berbagai daerah. Namun, permintaan lambat laut tiba-tiba menghilang, digantikan dengan pipiti terbuat dari stryfoam atau plastik.

“kalau kita lihat, sekarang besek di acara hajatan sudah memakai pipiti dari stryfoam dan plastik,” ungkapnya.

Acih mengaku permintaan pipiti besek dari bambu sangat menurun drastis, padahal jika dibandingkan dengan harga besek dari stryfoam atau plastik, tidak jauh berbeda bahkan cenderung lebih murah. Harga pipiti per 40 pcs dihargai Rp 18.000,- kepada bandar. Artinya harga satuannya hanya Rp 450,- , sedangkan bila dibandingkan harga satuan besek dari stryfoam atau plastik bisa mencapai Rp 500,- bahkan sampai Rp 750,- per bijinya.

Masih menurutnya, Sayang beribu sayang, tradisi berekat dengan menggunakan pipiti makin lama makin menghilang tergerus zaman. Menu yang disajikan masih sama, tapi kemasannya yang berbeda.

Pipiti sudah tergusur, digantikan oleh kotak makanan modern dari styrofoam, dan pemisah nasi dengan lauk digantikan oleh plastik.

Lebih lanjut, dia mengatakan makanan yang disajikan besek stryfoam atau plastik memang terlihat lebih bersih, tapi bukan hanya kehilangan aroma bambu dan daun pisang yang khas, juga pemakaian besek stryfoam dan plastik makanannya menjadi cepat basi. Dan kalau dilihat dari kesehatan juga kurang baik.

Kalau sudah begitu, masakan berekat sudah kehilangan daya tariknya lagi, dan lebih banyak menunggu daur ulang, nasinya dihangatkan lagi dan begitu pula dengan lauknya. Nilai kesegarannya tentu saja sudah berkurang. Yang ikut berkurang, bukan saja soal kenikmatannya. Tapi juga penghasilan para pembuat pipiti.

“makanan menggunakan besek stryfoam dan plastik, makanannya menjadi cepat basi. Dan kalau dilihat dari kesehatan juga kurang baik,” katanya.

Selain itu, ia jug berharap adanya perhatian dari pemerintah agar keberadaan besek pipiti dari bambu ini bisa bertahan dan eksis di Tasikmalaya pada khususnya. Pemasaran menjadi kendala utamanya, juga peminat pemakaian besek dari bambu.

“semoga ada perhatian dari Pemerintah, besek pipiti bambu masih bisa bertahan,” harapnya. (iman/PanduDesa)

About Pemdes Cikupa 279 Articles
Hayu Ngamajukeun Desa

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan