Nasib Maskapai Penerbangan Indonesia Di Masa Pandemi

Nasib Maskapai Penerbangan Indonesia Di Masa Pandemi

MENGUTIP beberapa sumber berita yang beredar hingga akhir tahun 2020, wabah pandemi Covid-19 setidaknya telah mengantar belasan maskapai penerbangan di seluruh dunia menuju kebangkrutan.

Maskapai penerbangan tersebut antara lain adalah Air Italy , Atlas Global, Cathay Dragon, anak perusahaan Cathay Pacific, AirAsia Japan, NokScoot makapai penerbangan di Thailand, Compass Airlines di Amerika Serikat, Trans States Airlines , Virgin Australia, TAME Maskapai penerbangan milik pemerintah Ekuador, LATAM Airlines maskapai penerbangan terbesar di Amerika Latin, One Airlines maskapai penerbangan Cile, Flybe maskapai penerbangan Inggris , Air Mauritius, Ravn Alaska dan terakhir paling dramatis adalah Avianca, maskapai penerbangan Kolumbia. Maskapai ini yang telah lahir hanya 16 tahun setelah pesawat terbang pertama diterbangkan oleh Wright Bersaudara di tahun 1903 tutup usia pada bulan Mei 2020, akibat pendemi Covid-19 setelah beroperasi lebih dari 100 tahun. Belakangan terdengar pula kabar duka bahwa Thai Airways dan Philippine Airlines sudah “on the way” menuju ke kebangkrutan.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Pailit dan Bedanya dengan Bangkrut Bagaimana di Indonesia Maskapai Penerbangan di Indonesia pada umumnya tengah berada dalam berbagai masalah serius sejak tahun 2018-2019 sebelum pandemi Covid-19 muncul dan merajalela.

Kita masih ingat bahwa ketika itu maskapai penerbangan di Indonesia baru saja keluar dari kemelut panjang era perang harga tiket murah yang menghasilkan turun drastisnya jumlah maskapai penerbangan yang mampu bertahan. Dengan jumlah maskapai yang relatif sudah menjadi sedikit jumlahnya, maka konsolidasi manajemen maskapai penerbangan menghasilkan solusi untuk antara lain memposisikan atau mengembalikan harga tiket pada kurva normal. Terima kasih telah membaca Kompas.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Persaingan sudah berlalu, maka sudah saatnya menuju perhitungan harga tiket yang ‘wajar”. Kembalinya harga tiket tersebut telah membuat kehebohan besar karena para konsumen yang sudah terlanjur menikmati harga tiket murah menjadi kaget. Muncul protes keras dari berbagai pihak, tidak hanya para konsumen pengguna jasa angkutan udara akan tetapi juga beberapa pihak terkait antara lain seperti pengusaha biro perjalanan, hotel dan restoran.

Setelah pada era sebelumnya, terlihat dipermukaan maskapai penerbangan bertanding dalam adu murah harga tiket, kemudian muncul tuduhan maskapai penerbangan melakukan oligopli dan lain sebagainya dalam menentukan harga tiket yang dinilai merugikan penumpang dan menghambat laju berputarnya roda ekonomi. Belum sempat kemelut itu dapat diatasi, muncul Sang Pandemi Covid-19 yang memperburuk situasi. Hal ini menyebabkan dan dapat dipastikan hampir seluruh maskapai penerbangan di Indonesia yang jumlahnya tinggal sedikit itu kini tengah mengalami kesulitan yang amat sangat “luar biasa”.

Peluang

Di tengah kesulitan yang sangat pelik menerpa bisnis indsutri penerbangan global, Indonesia sendiri masih memiliki potensi yang cukup menjanjikan dalam pengembangan sektor angkutan udara.

Pasar penerbangan domestik masih memberikan harapan besar bagi bisnis maskapai penerbangan. Demikian pula pasar angkutan barang alias kargo udara dan juga charter flight tetap memperlihatkan sinar terang bagi usaha jasa angkutan udara.

Namun itu semua hanya akan berlaku dengan catatan bila dijalankan oleh sebuah maskapai penerbangan yang kondisinya “sehat wal afiat” tidak kurang suatu apa. Peluang yang ada sungguh masih berada dalam posisi yang cukup menjanjikan.

Ongkos sewa pesawat sekarang ini relatif murah, mencari tenaga kru dan karyawan relatif mudah sementara pasar masih tetap terbuka. Sekali lagi tentu saja peluang ini hanya terbuka bagi perusahaan penerbangan yang tidak memiliki masalah, terutama dalam sisi kondisi finansial dan manajemen.

Itu sebabnya sudah ada dan terdengar sayup sayup sampai akan berdirinya atau didirikannya perusahaan maskapai penerbangan “baru” yang akan beroperasi di dalam negeri.

Intinya adalah potensi dari peluang yang ada hanya tersedia bagi sebuah maskapai penerbangan baru yang sehat. Peluang yang tidak mungkin dapat diraih oleh maskapai penerbangan yang sudah terlanjur besar, apalagi yang tengah bermasalah. Penyebabnya sederhana sekali, bahwa perusahaan penerbangan yang sudah terlanjur besar posturnya dengan kondisi pasar yang menurun menjadi sangat kecil, maka apapun yang dikerjakan tidak akan dapat menutupi “ongkos” perusahaan bila hanya mengandalkan dari porsi keuntungan yang mungkin dapat di peroleh. Tidak demikian halnya bila muncul sebuah maskapai penerbangan baru yang skala dan postur serta struktur perusahaannya sesuai dengan tuntutan pasar yang tersedia. Persoalannya adalah untuk me-reset atau me-reboot sebuah maskapai penerbangan, apalagi yang sudah terlanjur besar dalam arti memiliki pesawat yang banyak serta kru dan karyawan yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya, tidaklah semudah me-reset atau me-reboot sebuah handphone atau laptop misalnya. Semoga proses vaksinasi yang tengah berjalan dan upaya bersama dalam menanggulangi pandemic covid 19 dapat segera berhasil, sehingga nasib maskapai penerbangan di Indonesia dapat segera membaik kembali.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Nasib Maskapai Penerbangan Indonesia di Tengah Pandemi”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2021/05/31/050600726/nasib-maskapai-penerbangan-indonesia-di-tengah-pandemi?page=2. Editor : Erlangga Djumena

About Pemdes Cikupa 279 Articles
Hayu Ngamajukeun Desa

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan